PROPOSAL
USAHA
“ANEKA
KERUPUK”
PT. SODOAREN
Oleh:
SIGIT PRASETYO
PEMERINTAH
KABUPATEN TEMANGGUNG DINAS PENDIDIKAN
SMK
NEGERI 1 (STM PEMBANGUNAN) TEMANGGUNG
KOMPETENSI
KEAHLIAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
Jalan
Kadar Maron Sidorejo Kotak Pos 104 Telp (0293) 4901639
TEMANGGUNG
2014/2015
A. Nama Perusahaan
Perusahaan yang akan penulis dirikan
bernama PT.sodoaren
B. Komoditas Perusahaan
Perusahaan yang akan penulis
dirikan memproduksi berbagai aneka kerupuk dengan bentuk dan cita rasa yang
berbeda beda.
C. Penanganan QC
Perusahaan
QC (Quality Control) adalah
seseorang yang bertugas mengontrol dan mengawasi mutu produk agar selalu
dalam lingkup standar yang telah ditetapkan. Kegiatan utama QC adalah mengawasi
mutu produk mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga menjadi produk jadi.
Raw material (bahan mentah) yang
akan diolah, dan sebagian yang belum diolah disimpan di ruang penyimpanan.
Tugas seorang QC adalah menjaga agar
seluruh proses produksi termasuk pengemasan sesuai dengan proses parameter
standar agar produk yang dihasilkan terjaga dan terjamin kualitasnya.
D. Penanganan limbah
perusahaan
Limbah dari perusahaan ini berupa
limbah cair maupun padat dari adonan krupuk. Proses penanganan limbahnya pun
melalui beberapa tahap. Berikut ini tahapan penanganan limbah di PT.sodoaren :
1. Tahap
Pertama (Primary Treatment)
Limbah cair dari adonan masuk dalam
tangki separator oil. Untuk limbah dari adonan ditampung dengan tujuan untuk
menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak pada limbah tersebut. Busa akan
meningkatkan minyak dan kotoran sehingga terpisah dengan limbah cair.
2. Tahap
Kedua (Secondary Treatment)
Pada tahap ini semua limbah masuk
pada main collection tank ,pasitikan sudah tidak mengandung kotoran fisik dan
minyak. Air limbah kemudian dialirkan ke neutralization tankuntuk diatur pHnya
yang bertujuan untuk memberikan kondisi yang baik untuk bakteri agar dapat
mengurangi senyawa organik yang terkandung dalam limbah. Biasanya pH sekita 6.5
– 7.5 dengan cara dalam cairan limbah di tambah NaOH.
3. Tahap
ketiga (Tertiary Tretment)
Bakteri yang telah mengurangi limbah
akan mengalami penambahan jumlah bakteri yang saling mengikat sehingga
mengendap dalam dasar tangki hal tersebut terjadi pada tangki sedimentasi 1 dan
bagian atas endapan yang masih mengandung senyawa organik akan masuk ke
aeration tank 2 dan melakukan proses aerasi yang kedua dan bertujuan untuk
meningkatkan kapasitas pengurangan limbah dan dapat mengurangi beban bakteri
yang mati karena kelebihan beban pada aeration tank 1. Selanjutnya limbah masuk
ke sedimentation tank 2 terjadi proses pengendapan dan cairan yang tidak
mengendap akan masuk ke dalam flocculation tank yang berfunsi untuk mempercepat
proses pengendapan dengan cara koagulasi atau proses pengendapan dengan
menambahkan koagulan yang telah diatur dosisnya dengan ini partikel koloid akan
saling tarik menarik dan menggumpal. Koagulan yang digunakan adalah alumunium
sulfat, koagulasi memisahkan lumpur dan air. Air tersebut memiliki COD yang
rendah dan dilakukan pengambilan sampel oleh QC dan ditampung pada tanki
penampungan akhir dan bisa digunakan untuk kegiatan gardening
4. Tahap keempat
Pengolahan Sludge Lumpur yang
terkumpul ditampung pada sludge tank.Lumpur yang sudah terkumpul disaring
dengan menggunakan filter press. Maka akan terpisah antara air dan padatan
sehingga air tersebut akan dikembalikan ke main collection tank harus mengalami
proses ulang karena memiliki COD dan BOD yang tinggi dan padatan akan dijadikan
pupuk.
E. HRD dan standard
Pegawai Perusahaan
i)
Administrator
(1) Pria,
usia maks. 30 tahun
(2) Min.s1
semua jurusan, diutamakan jurusan pangan dengan IPK min. 2.75
ii) Technician
(1) Pria,
usia maks. 28 tahun
(2) D3
jurusan Teknik Mesin/Teknik Elektro/Teknik Listrik Industri, dengan IPK min.
3.00
(3)
Bersedia bekerja dengan shift
(4)
Bersedia ditempatkan di pabrik
iii) Lab Tech
(1) Pria/Wanita,
usia maks. 28 tahun
(2) D3
jurusan terkait, dengan IPK min. 3.00
(3)
Bersedia bekerja dengan shift
(4)
Bersedia ditempatkan di pabrik
iv) Executive
(1) Pria,
wanita usia maks. 27 tahun
(2) S1
jurusan terkait, dengan IPK min. 3.00
(3)
Memiliki kemampuan berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan
(4)
Kreatif, memiliki banyak ide, dan berorientasi detail
(5) Dapat
bekerja dengan jam kerja fleksibel dan memiliki mobilitas
tinggi
(6)
Memiliki pengalaman di bidang terkait menjadi poin lebih
v) Supervisor
(1) Pria,
wanita usia maks. 25 tahun
(2) D3
jurusan terkait, dengan IPK min. 3.00
(3)
Bersedia bekerja dengan shift
(4)
Bersedia ditempatkan di pabrik
F. Produk hasil
olah dan sasaran pemakai local
Produk yang dihasilkan perusahaan
ini di tujukan untuk perusahaan industry lain yang mengolah berbagai macam
produk makanan dan minuman.
G. System Pemasaran produk
Pemasaran produk ditangani oleh
sales and marketing department. Departemen ini menangani masalah penjualan
produk dan membuat perjanjian dengan para pemesan. Setelah tercapai kesepakatan
maka bagian sales akan menentukan produk yang akan dipesan kepada pihak
perusahaan. Dari hasil apabila pihak perusahaan sudah menerima persetujuan,
maka akan dibuat jadwal produksi yang nanti berkaitan dengan deprtemen PPIC.
Kemudian,finished product akan dipasarkan dengan didistribusikan dengan
container.
H. Pola Kerjasama, Anak binaan
Usaha
Pola kerjasama yang kami terapkan
adalah dengan menggandeng beberapa perusahaan lain untuk memenuhi jumlah
pesanan yang melebihi batas jumlah produksi di PT.SODOAREN. Pendapatan yang diperoleh
akan dibagi sesuai dengan perjanjian yang telah dilaksanakan sebelumnya di awal
produksi.
Anak binaan usaha yang kami miliki
adalah UMKM di sekitar perusahaan kami. Setiap satu bulan sekali kami
mengadakan training dan audit untuk mereka, sehingga produk mereka tetap
terjamin kualitasnya.
I. Kepedulian ke Lingkungan sekitar Perusahaan
Kepedulian kami terhadap masyarakat
di sekitar perusahaan, kami wujudkan dengan pengelolaan limbah produksi yang
sebaik mungkin, sehingga tidak akan mengganggu kenyamanan masyarakat.
Selain itu, kami juga lebih memilih
karyawan dengan tempat tinggal terdekat dari perusahaan kami diantara semua
yang mengajukan lamaran pekerjaan, sebagai bukti pengabdian kami terhadap
masyarakat di sekitar perusahaan kami.
J. Pengawasan
Mutu Kerupuk
Pengawasan
mutu merupakan program atau kegiatan yang tak terpisahkan dengan dunia
industri, yaitu dunia usaha yang meliputi proses produksi, pengolahan dan
pemasaran produk. Industri mempunyai hubungan yang erat sekali dengan
pengawasan mutu karena hanya produk hasil industri yang bermutu yang dapat
memenuhi kebutuhan pasar, yaitu masyarakat konsumen umum.
Dalam
industri pangan modern, pengawasan mutu banyak menggunakan analisa mutu
berdasarkan prinsip-prinsip ilmu dan teknologi yang makin canggih, namun di
samping itu penilaian secara indrawi/organoleptik tetap dipertahankan
(Soekarto, 1990). Pengawasan mutu yang dilakukan oleh perusahaan dilaksanakan
pada tiap bagian pengolahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu kerupuk
antara lain adalah kadar air, volume pengembangan, dan kemasan.
Kerenyahan
kerupuk udang sangat ditentukan oleh kadar airnya. Semakin banyak mengandung
air, kerupuk udang akan semakin kurang renyah (Wahyono dan Marzuki,1996).
Menurut Muliawan (1991), kadar air yang terikat dalam kerupuk sebelumdigoreng
sangat menentukan volume pengembangan kerupuk matang. Jumlah uap air yang
terdapat dalam bahan pangan ditentukan oleh lamanya pengeringan, suhu
penggorengan, kecepatan aliran udara, kondisi bahan dan cara penumpukan serta
penambahan air sewaktu pembuatan adonan pada proses gelatinisasi. Demikian pula
jika prosentase kandungan tepung lebih banyak dibanding
udangnya,
maka daya kembang kerupuk akan semakin berkurang. Sebaliknya bila perbandingan
tepung dengan udang seimbang maka daya kembang kerupuk akan semakin besar (Wahyono
dan Marzuki, 1996). Pengontrolan kadar air kerupuk dilakukan per lot, yaitu
tiap tiga kereta yang dimasukkan ke dalam oven secara bersama-sama.
Pengontrolan ini dilakukan untuk mengetahui kadar air sebenarnya dari kerupuk
udang dan lebih teliti karena oven yang digunakan tidak menyalurkan udaranya
secara merata. Sehingga kadar air kerupuk tiap kereta dan tiap ram
berbeda-beda.Menurut Muliawan (1991), salah satu parameter mutu kerupuk goreng
adalah volume pengembangan. Sedangkan volume pengembangan dipengaruhi oleh
kadar air kerupuk mentah dan suhu penggorengan. Makin banyak penambahan bahan
bukan pati,
makin
kecil pengembangan kerupuk pada saat penggorengan, dan pengembangan menentukan
kerenyahannya (Haryadi et al., 1989).
Pengemasan
berfungsi untuk melindungi produk
dari pengaruh lingkungan dan untuk memberi pengaruh visual. Selain itu
pengemasan juga untuk mempermudah penanganan serta distribusi dan memperpanjang
masa simpan produk yang dikemas.