Laman

Rabu, 03 Februari 2016

PROPOSAL USAHA KERUPUK



PROPOSAL USAHA
“ANEKA KERUPUK”
PT. SODOAREN
 


 
Oleh:
SIGIT PRASETYO
 

PEMERINTAH KABUPATEN TEMANGGUNG DINAS PENDIDIKAN
SMK NEGERI 1 (STM PEMBANGUNAN) TEMANGGUNG
KOMPETENSI KEAHLIAN TEKNOLOGI PENGOLAHAN HASIL PERTANIAN
Jalan Kadar Maron Sidorejo Kotak Pos 104 Telp (0293) 4901639
TEMANGGUNG
2014/2015





A.   Nama Perusahaan
Perusahaan yang akan penulis dirikan bernama PT.sodoaren

B.   Komoditas Perusahaan
Perusahaan yang akan  penulis dirikan memproduksi berbagai aneka kerupuk dengan bentuk dan cita rasa yang berbeda beda.

C.   Penanganan QC Perusahaan
QC (Quality Control) adalah seseorang  yang bertugas mengontrol dan mengawasi mutu produk agar selalu dalam lingkup standar yang telah ditetapkan. Kegiatan utama QC adalah mengawasi mutu produk mulai dari bahan baku, proses produksi, hingga menjadi produk jadi.
Raw material (bahan mentah) yang akan diolah, dan sebagian yang belum diolah disimpan di ruang penyimpanan.
Tugas seorang QC adalah menjaga agar seluruh proses produksi termasuk pengemasan sesuai dengan proses parameter standar agar produk yang dihasilkan terjaga dan terjamin kualitasnya.



D.   Penanganan limbah perusahaan
Limbah dari perusahaan ini berupa limbah cair maupun padat dari adonan krupuk. Proses penanganan limbahnya pun melalui beberapa tahap. Berikut ini tahapan penanganan limbah di PT.sodoaren :
1.     Tahap Pertama (Primary Treatment)
Limbah cair dari adonan masuk dalam tangki separator oil. Untuk limbah dari adonan ditampung dengan tujuan untuk menghilangkan padatan tersuspensi dan minyak pada limbah tersebut. Busa akan meningkatkan minyak dan kotoran sehingga terpisah dengan limbah cair.
2.     Tahap Kedua (Secondary Treatment)
Pada tahap ini semua limbah masuk pada main collection tank ,pasitikan sudah tidak mengandung kotoran fisik dan minyak. Air limbah kemudian dialirkan ke neutralization tankuntuk diatur pHnya yang bertujuan untuk memberikan kondisi yang baik untuk bakteri agar dapat mengurangi senyawa organik yang terkandung dalam limbah. Biasanya pH sekita 6.5 – 7.5 dengan cara dalam cairan limbah di tambah NaOH.
3.     Tahap ketiga (Tertiary Tretment)
Bakteri yang telah mengurangi limbah akan mengalami penambahan jumlah bakteri yang saling mengikat sehingga mengendap dalam dasar tangki hal tersebut terjadi pada tangki sedimentasi 1 dan bagian atas endapan yang masih mengandung senyawa organik akan masuk ke aeration tank 2 dan melakukan proses aerasi yang kedua dan bertujuan untuk meningkatkan kapasitas pengurangan limbah dan dapat mengurangi beban bakteri yang mati karena kelebihan beban pada aeration tank 1. Selanjutnya limbah masuk ke sedimentation tank 2 terjadi proses pengendapan dan cairan yang tidak mengendap akan masuk ke dalam flocculation tank yang berfunsi untuk mempercepat proses pengendapan dengan cara koagulasi atau proses pengendapan dengan menambahkan koagulan yang telah diatur dosisnya dengan ini partikel koloid akan saling tarik menarik dan menggumpal. Koagulan yang digunakan adalah alumunium sulfat, koagulasi memisahkan lumpur dan air. Air tersebut memiliki COD yang rendah dan dilakukan pengambilan sampel oleh QC dan ditampung pada tanki penampungan akhir dan bisa digunakan untuk kegiatan gardening
4.  Tahap keempat
Pengolahan Sludge Lumpur yang terkumpul ditampung pada sludge tank.Lumpur yang sudah terkumpul disaring dengan menggunakan filter press. Maka akan terpisah antara air dan padatan sehingga air tersebut akan dikembalikan ke main collection tank harus mengalami proses ulang karena memiliki COD dan BOD yang tinggi dan padatan akan dijadikan pupuk.

E.   HRD dan standard Pegawai Perusahaan
i)       Administrator
     (1) Pria, usia maks. 30 tahun
     (2) Min.s1 semua jurusan, diutamakan jurusan pangan  dengan IPK min. 2.75
ii)    Technician
     (1) Pria, usia maks. 28 tahun
     (2) D3 jurusan Teknik Mesin/Teknik Elektro/Teknik Listrik Industri, dengan IPK min. 3.00
     (3) Bersedia bekerja dengan shift
     (4) Bersedia ditempatkan di pabrik


iii)  Lab Tech
     (1) Pria/Wanita, usia maks. 28 tahun
     (2) D3 jurusan terkait, dengan IPK min. 3.00
     (3) Bersedia bekerja dengan shift
     (4) Bersedia ditempatkan di pabrik

iv)  Executive
     (1) Pria, wanita usia maks. 27 tahun
     (2) S1 jurusan terkait, dengan IPK min. 3.00
     (3) Memiliki kemampuan berbahasa Inggris baik lisan maupun tulisan
     (4) Kreatif, memiliki banyak ide, dan berorientasi detail
     (5) Dapat bekerja dengan jam kerja fleksibel dan memiliki mobilitas            tinggi
     (6) Memiliki pengalaman di bidang terkait menjadi poin lebih

v)    Supervisor
     (1) Pria, wanita usia maks. 25 tahun
     (2) D3 jurusan terkait, dengan IPK min. 3.00
     (3) Bersedia bekerja dengan shift
     (4) Bersedia ditempatkan di pabrik

F.    Produk hasil olah dan sasaran pemakai local
Produk yang dihasilkan perusahaan ini di tujukan untuk perusahaan industry lain yang mengolah berbagai macam produk makanan dan minuman.

G.  System Pemasaran produk
Pemasaran produk ditangani oleh sales and marketing department. Departemen ini menangani masalah penjualan produk dan membuat perjanjian dengan para pemesan. Setelah tercapai kesepakatan maka bagian sales akan menentukan produk yang akan dipesan kepada pihak perusahaan. Dari hasil apabila pihak perusahaan sudah menerima persetujuan, maka akan dibuat jadwal produksi yang nanti berkaitan dengan deprtemen PPIC. Kemudian,finished product akan dipasarkan dengan didistribusikan dengan container.

H.  Pola Kerjasama, Anak binaan Usaha
Pola kerjasama yang kami terapkan adalah dengan menggandeng beberapa perusahaan lain untuk memenuhi jumlah pesanan yang melebihi batas jumlah produksi di PT.SODOAREN. Pendapatan yang diperoleh akan dibagi sesuai dengan perjanjian yang telah dilaksanakan sebelumnya di awal produksi.
Anak binaan usaha yang kami miliki adalah UMKM di sekitar perusahaan kami. Setiap satu bulan sekali kami mengadakan training dan audit untuk mereka, sehingga produk mereka tetap terjamin kualitasnya.

I.   Kepedulian ke Lingkungan sekitar Perusahaan
Kepedulian kami terhadap masyarakat di sekitar perusahaan, kami wujudkan dengan pengelolaan limbah produksi yang sebaik mungkin, sehingga tidak akan mengganggu kenyamanan masyarakat.

Selain itu, kami juga lebih memilih karyawan dengan tempat tinggal terdekat dari perusahaan kami diantara semua yang mengajukan lamaran pekerjaan, sebagai bukti pengabdian kami terhadap masyarakat di sekitar perusahaan kami.


J. Pengawasan Mutu Kerupuk
Pengawasan mutu merupakan program atau kegiatan yang tak terpisahkan dengan dunia industri, yaitu dunia usaha yang meliputi proses produksi, pengolahan dan pemasaran produk. Industri mempunyai hubungan yang erat sekali dengan pengawasan mutu karena hanya produk hasil industri yang bermutu yang dapat memenuhi kebutuhan pasar, yaitu masyarakat konsumen umum.
Dalam industri pangan modern, pengawasan mutu banyak menggunakan analisa mutu berdasarkan prinsip-prinsip ilmu dan teknologi yang makin canggih, namun di samping itu penilaian secara indrawi/organoleptik tetap dipertahankan (Soekarto, 1990). Pengawasan mutu yang dilakukan oleh perusahaan dilaksanakan pada tiap bagian pengolahan. Faktor-faktor yang mempengaruhi mutu kerupuk antara lain adalah kadar air, volume pengembangan, dan kemasan.
Kerenyahan kerupuk udang sangat ditentukan oleh kadar airnya. Semakin banyak mengandung air, kerupuk udang akan semakin kurang renyah (Wahyono dan Marzuki,1996). Menurut Muliawan (1991), kadar air yang terikat dalam kerupuk sebelumdigoreng sangat menentukan volume pengembangan kerupuk matang. Jumlah uap air yang terdapat dalam bahan pangan ditentukan oleh lamanya pengeringan, suhu penggorengan, kecepatan aliran udara, kondisi bahan dan cara penumpukan serta penambahan air sewaktu pembuatan adonan pada proses gelatinisasi. Demikian pula jika prosentase kandungan tepung lebih banyak dibanding
udangnya, maka daya kembang kerupuk akan semakin berkurang. Sebaliknya bila perbandingan tepung dengan udang seimbang maka daya kembang kerupuk akan semakin besar (Wahyono dan Marzuki, 1996). Pengontrolan kadar air kerupuk dilakukan per lot, yaitu tiap tiga kereta yang dimasukkan ke dalam oven secara bersama-sama. Pengontrolan ini dilakukan untuk mengetahui kadar air sebenarnya dari kerupuk udang dan lebih teliti karena oven yang digunakan tidak menyalurkan udaranya secara merata. Sehingga kadar air kerupuk tiap kereta dan tiap ram berbeda-beda.Menurut Muliawan (1991), salah satu parameter mutu kerupuk goreng adalah volume pengembangan. Sedangkan volume pengembangan dipengaruhi oleh kadar air kerupuk mentah dan suhu penggorengan. Makin banyak penambahan bahan bukan pati,
makin kecil pengembangan kerupuk pada saat penggorengan, dan pengembangan menentukan kerenyahannya (Haryadi et al., 1989). 
Pengemasan berfungsi untuk melindungi produk dari pengaruh lingkungan dan untuk memberi pengaruh visual. Selain itu pengemasan juga untuk mempermudah penanganan serta distribusi dan memperpanjang masa simpan produk yang dikemas.