Laman

Rabu, 20 Januari 2016

news



PESTISIDA ORGANIK

A.Pengertian Pestisida Organik
             Pestisida organik adalah pestisida yang bahan aktifnyaberasal dari tanaman atau tumbuhan, hewan dan bahan organik lainnya yang berkhasiat mengendalikan serangan hama pada tanaman. Pestisida organik tidak meninggalkan residu yang berbahaya pada tanaman maupun lingkungan. Serta dapat dibuat dengan mudah menggunakan bahan yang murah dan peralatan yang sederhana.

B.Cara kerja pestisida Organik

Cara kerja pestisida organik sangat spesifik:

- Merusak perkembangan telur, larva, dan pupa
- Menghambat pergantian kulit
- Mengganggu komunikasi serangga
- Menyebabkan serangga menolak makan
- Menghambat reproduksi serangga betina
- Mengurangi nafsu makan
- Memblokir kemampuan makan serangga
- Mengusir serangga, dan
- Menghambat perkembangan patogen penyakit.

            Keunggulan

- Murah dan mudah dibuat oleh petani
- Relatif aman terhadap lingkungan
- Tidak menyebabkan keracunan pada tanaman
- Sulit menimbulkan kekebalan terhadap hama
- Kompatibel digabung dengan cara pengendalian
   yang lain, dan
- menghasilkan produk pertanian yang sehat karena
   bebas residu pestisida kimia.

C.Cara membuat pestisida organik
Oleh: Titis Priyowidodo
Pestisida organik diperlukan sebagai upaya pemberantasan hama dalam pertanian organik. Pestisida ini bisa dibuat dari berabagi bahan alami. Pestisida organik lebih ramah lingkungan karena meterialnya mudah terurai di alam bebas.
Pestisida organik merupakan ramuan obat-obatan untuk mengendalikan hama dan penyakit tanaman yang dibuat dari bahan-bahan alami. Bahan-bahan untuk membuat pestisida organik diambil dari tumbuhan-tumbuhan, hewan dan mikroorganisme. Karena dibuat dari bahan-bahan yang terdapat di alam bebas, pestisida jenis ini lebih ramah lingkungan dan lebih aman bagi kesehatan manusia.
Bila dibandingkan dengan pestisida kimia, pestisida organik mempunyai beberapa kelebihan. Pertama, lebih ramah terhadap alam, karena sifat material organik mudah terurai menjadi bentuk lain. Sehingga dampak racunnya tidak menetap dalam waktu yang lama di alam bebas. Kedua, residu pestisida organik tidak bertahan lama pada tanaman, sehingga tanaman yang disemprot lebih aman untuk dikonsumsi. Ketiga, dilihat dari sisi ekonomi penggunaan pestisida organik memberikan nilai tambah pada produk yang dihasilkan. Produk pangan non-pestisida harganya lebih baik dibanding produk konvensional. Selain itu, pembuatan pestisida organik bisa dilakukan sendiri oleh petani sehingga menghemat pengeluaran biaya produksi. Keempat, penggunaan pestisida organik yang diintegrasikan dengan konsep pengendalian hama terpadu tidak akan menyebabkan resistensi pada hama.
Namun ada beberapa kelemahan dari pestisida organik, antara lain kurang praktis. Pestisida organik tidak bisa disimpan dalam jangka lama. Setelah dibuat harus segera diaplikasikan sehingga kita harus membuatnya setiapkali akan melakukan penyemprotan. Selain itu, bahan-bahan pestisida organik lumayan sulit didapatkan dalam jumlah dan kontinuitas yang cukup. Dari sisi efektifitas, hasil penyemprotan pestisida organik tidak secepat pestisida kimia sintetis. Perlu waktu dan frekuensi penyemprotan yang lebih sering untuk membuatnya efektif. Selain itu, pestisida organik relatif tidak tahan terhadap sinar matahari dan hujan. Namun seiring perkembangan teknologi pertanian organik akan banyak inovasi-inovasi yang ditemukan dalam menanggulangi hambatan itu.

Bahan baku pestisida organik
Bagian tumbuhan yang diambil untuk bahan pestisida organik biasanya mengandung zat aktif dari kelompok metabolit sekunder seperti alkaloid, terpenoid, fenolik dan zat-zat kimia lainnya. Bahan aktif ini bisa mempengaruhi hama dengan berbagai cara seperti penghalau (repellent), penghambat makan (anti feedant), penghambat pertumbuhan (growth regulator), penarik (attractant) dan sebagai racun mematikan. Sedangkan, pestisida organik yang terbuat dari bagian hewan biasanya berasal dari urin. Beberapa mikroorganisme juga diketahui bisa mengendalikan hama yang bisa dipakai untuk membuat pestisida. Berikut ini beberapa bahan yang sering digunakan untuk membuat pestisida organik:

D.Macam pestisida organik dan cara membuatnya
Ada berbagai cara atau resep untuk membuat pestisida organik. Hingga saat ini tidak ada standardisasi pembuatan pestisida organik. Resep-resep pestisida organik biasanya didapatkan dari pengalaman para petani, kearifan lokal masyarakat, hasil percobaan para praktisi dan berdasarkan penelitian ilmiah. Berikut ini beberapa cara membuat pestisida organik yang sering digunakan para petani untuk mengendalikan hama dan penyakit.

a. Pengendali serangga penghisap (kepik dan kutu-kutuan)
Siapkan bahan-bahan berikut, daun surian 1 kg, daun tembakau 1kg, daun lagundi 1 kg, daun titonia 1 kg, air kelapa sebanyak 2 liter, gambir 0,5 ons, garam dapur 1 ons dan air panas 500 ml. Kemudian siapkan penumbuk dari batu. Tumbuk daun tembakau, daun surian daun lagundi dan daun titania, aduk hingga rata. Apabila sudah lembut, rendam dalam air kelapa dan aduk-aduk. Kemudian ekstrak campuran tersebut dengan cara diperas dengan kain. Saring kembali hasil perasan dan tambahkan garam lalu kocek larutan. Siapkan cairan gambir dengan cara melarutkan setengah ons gambir dalam 500 ml air panas, lalu saring dengan kain halus. Langkah terakhir campurkan larutan daun-daunan dan larutan gambir. Masukkan dalam botol atau jerigen plastik. Ramuan pestisida organik siap untuk digunakan.
Cara menggunakan pestisida organik ini adalah dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Lakukan penyemprotan pada pucuk tanaman terlebih dahulu kemudian permukaan atas dan bawah daun. Frekuensi penyemprotan dianjurkan dua kali seminggu hingga populasi larva atau kutu berkurang dan tidak membahayakan lagi.
b. Pengendali ulat pemakan daun
Siapkan bahan-bahan yang diperlukan antara lain, air kelapa 2 liter, ragi tape 1 butir, bawang putih 4 ons, deterjen 0,5 ons dan kapur tohor 4 ons. Langkah pertama adalah tumbuk bawang putih hingga halus. Kemudian larutkan deterjen kedalam air kelapa dan aduk hingga merata. Setelah itu, masukan hasil tumbukan bawang putih, ragi tape dan kapur tohor. Saring campuran tersebut dengan kain halus. Langkah terakhir, fermentasikan cairan selama 20 hari dalam wadah tertutup. Pestisida organik pengusir ulat daun siap digunakan.
Cara penggunaan, encerkan larutan pestisida organik sebanyak 500 ml dengan 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Frekuensi penggunaan sebanyak 2 kali seminggu, lakukan terus sampai serangan ulat menurun sampai taraf aman.
c. Pengendali penyakit cendawan atau jamur
Siapkan bahan-bahan berikut, daun dakinggang gajah 5 ons, lengkuas 3 ons, jahe 3 ons, bawang putih 3 ons dan ekstrak titonia 3 liter. Tumbuk daun galinggang gajah, kemudian parut jahe dan lengkuas. Siapkan larutan daun titonia dengan cara menumbuk daun titonia hingga halus dan campurkan dengan 3 liter air, kemudian saring dengan kain halus. Setelah itu, masukkan bahan-bahan yang telah ditumbuk dan diparut ke dalam larutan titonia, aduk hingga merata. Saring dan peras campuran tersebut. Pestisida organik pengendali cendawan atau jamur siap digunakan.
Penggunaan, encerkan 500 ml pestisida organik ini dengan 10 liter air, aduk hingga rata dan masukkan kedalam tangki semprotan. Penyemprotan dilakuan pada seluruh bagian tanaman seperti pucuk, daun dan batang. Frekuensi penggunaan yang dianjurkan 2 kali dalam seminggu hingga serangan melemah.
d. Pengendali penyakit yang disebabkan bakteri
Siapkan bahan-bahan berikut, daun sirih satu ikat, kunyit 2 ons, bawang putih 3 ons dan ekstrak daun titonia 3 liter. Tumbuk bahan-bahan tersebut satu per satu atau secara bersamaan. Rendam dalam ekstrak daun titonia selama beberapa menit, kemudian saring dengan kain halus. Pestisida pengusir bakteri siap digunakan. Cara penggunaannya dengan mengencerkan 500 ml larutan dalam 10 liter air. Frekuensi penggunaan 2 kali dalam seminggu.
e. Pengendali serangga penghisap, kepik dan kutu-kutuan dari daun inggu
Siapkan daun inggu 1,5 kg, bunga tahi ayam 1,5 kg, gambir 0,5 ons, air kelapa 3 liter dan air bersih panas 500 ml. Daun inggu dan bunga tahi ayam ditumbuk hingga halus dan rendam dalam air kelapa. Peras dan saring campuran tersebut. Lalu siapkan larutan gambir dengan air panas yang sudah disaring. Camprkan dual larutan tersebut, pestisida organik daun inggu siap digunakan.
Cara penggunaan, 1 liter pestisida organik diencerkan dengan 10 liter air bersih. Aduk hingga rata dan masukkan dalam tangki penyemprot. Semprot seluruh bagian tanaman, frekuensi penyemprotan seminggu dua kali.
f. Pengendali antraknosa pada tanaman cabe
Siapkan daun galinggang gajah 2,5 ons; daun tembakau 2,5 ons; daun thitonia 2,5 ons; daun lagundi 2,5 ons; garam 1 ons dan gambir 3 buah. Tumbuk halus daun galinggang, tembakau,thitonia dan daun lagun. Kemudian masukan kedalam ember yang berisi 1 liter air bersih, lalu tambahkan garam dan biarkan selama satu malam. Setelah itu saring larutan tersebut dan peras airnya sampai kering. Cairkan tiga buah gambir dengan satu gelas air panas dan campurkan kedalam larutan, aduk hingga merata. Pestisida organik untuk mengendalikan antraknosa yang biasa menyerang tanaman cabe siap digunakan.
Cara menggunakannya, masukkan larutan di atas ke dalam tangki semprot 15 liter. Penuhkan dengan air bersih dan aduk-aduk. Penggunaan pestisida organik ini sebiknya dilakukan sejak tanaman cabe mulai berbuah, semprotkan seminggu sekali. Kemudian amati tanaman, apabila ada buah cabe yang terserang antraknosa segera dipetik dan dibuang keluar lahan. Hendaknya penyemprotan dilakukan pagi atau sore hari. Air semprotan harus berbentuk kabut biar merata dan teknik penyemprotan dilakukan dari bawah ke atas. Pada musim hujan kita bisa menambahkan garam sebanyak 2,5 ons lagi pada larutan.
Berdasarkan pengalaman, pestisida organik ini bisa mengendalikan serangan antraknosa sampai 80 %. Ramuan tidak tahan lama dan masih bisa dipakai selagi aromanya masih khas. Apabila aromanya sudah berubah maka kemampuannya pun sudah menurun. Sebaiknya dibuat setiap kali kita akan memakai.

F.BEBERAPA CARA PEMBUATAN PESTISIDA ORGANIK

A.    Pestisida Organik untuk Cabe yang Daunnya Keriting
Bahan :
 2 kg abu dapur
0,25 kg tembakau
0,3 kg tepung belerang (sulphur)
Cara membuat pestisida :
Rendam belerang, tembakau dan abu dalam 10 lier air selama 3-5 hari
Larutan disaring dan digunakan untuk menyemprot daun cabai yang mulai keriting.
Abu dapur bisa ditaburkan langsung ke daun cabai yang keriting.


B.     Pengendalian Hama Sayuran dengan Pestisida Organik
Bahan :
2 kg daun gamal (Gliricidia sepium)
2 kg daun ketepeng kebo (Cassia alata)
2 kg daun kara (Phaseolus lunatus)
2 kg daun kenikir (Tagetes patula)
2 kg daun mahoni (Swietenia mahagoni)
2 kg daun brotowali (Tinospora crispa)
0,25 kg tepung belerang
20 kg tepung kapur
Cara membuat pestisida :
Dedaunan ditumbuk halus, dicampur kapur dan belerang.  Semua bahan dimasukkan tong (drum) direndam air dan diaduk rata.  Perendaman dilakukan selama seminggu.
Setelah seminggu, disaring dan diencerkan dengan air perbandingan 1 : 3. Pestisida organik ini dapat digunakan untuk menyemprot sayuran yang diserang hama.


C.    Pestisida Organik untuk Mengatasi Walang Sangit
Bahan :
10 kg umbi gadung (Dioscorea hispida)
10 kg jengkol (Pithecellobium lobatum)
5 kg pulai (Alstonia scholaris)
5 kg buah pinang (Areca catechu)
5 kg daun dan buah kecubung (Datura metel)
3 kg daun johar (Cassia siamea)
3 kg daun gamal (Glirisida sepium)
0,5 kg kapur sirih
Cara membuat pestisida :
Semua bahan ditumbuk halus, kemudian dimasukkan dalam tong (drum).  Direndam dalam 100 liter air, tong ditutup rapat selama 2-3 minggu sampai bahan-bahan ini membusuk.
Ambil cairan dan encerkan dengan perbandingan 1 : 4. Pestisida organik ini dapat digunakan untuk mengendalikan walang sangit, ulat, lembing, tikus dan dapat juga digunakan untuk pupuk.




D.    Pengendalian Wereng dengan Pestisida Organik
Bahan :
2 buah kecubung (Datura metel)
1 kg akar tuba (Derris elliptica)
Cara membuat pestisida :
Akar tuba dan buah kecubung direbus sampai mendidih, didinginkan dan disaring.
Ambil 1 liter, encerkan sampai 16 liter.  Insektisida organik ini dapat digunakan untuk mengendalikan wereng.


E.     Pestisida Organik dari Kencing Sapi
Bahan :
Air kencing sapi
Daun tembakau
Daun nimba
Rimpang kunyit
Cara membuat pestisida :
Dedaunan dan rimpang dimasukkan tong (drum), direndam dalam air kencing sapi selama 2 bulan. Sebelum digunakan untuk menyemprot tanaman yang diserang hama, larutan diencerkan dengan air perbandingan 1 : 2.

F.     Pestisida Organik untuk Mengendalikan Tikus
Bahan :
Kulit kayu gamal
10 kg Gandum atau padi
Cara membuat pestisida :
Biji gandum/padi dan kulit kayu gamal direbus dengan air.  Biji padi tersebut ditabur di kebun. Tikus yang makan padi akan mati karena gamal mengandung coumarin. 


G.    Pestisida Organik untuk Basmi Bekicot
Bahan :
Garam dapur
Bawang putih
¼ cangkir sabun cuci piring
Cara membuat pestisida :
Bawang putih ditumbuk, dicampur ½ liter air garam.  Ditambah sabun cuci piring, disaring.  Moluskisida organik ini disemprotkan ke tempat yang diserang siput atau bekicot.


H.    Cara Membuat Fungisida Organik dari Jahe
Bahan :
20 g rimpang jahe
Cara membuat pestisida :
Rimpang jahe ditumbuk halus, dicampur air, disaring.  Fungisida organik disemprotkan ke tanaman yang diserang Erysiphe polygoni, rhizoctonia solani, Sclerotium oryzae, S. rolfsii.

I.       Bit Gula sebagai Fungisida Organik
Bahan :
Bit gula (Beta vulgaris)
Cara membuat pestisida :
Bit diblender dengan menambahkan air 5% dari beratnya.  Campuran ini digunakan untuk mengendalikan Alternaria tenuis, Curvalaria penniseti, Fusarium solani, Fusarium oxysporum, Helmithosporium spp. 




















PESTISIDA HAYATI


1 Latar belakang

     Pengendalian hayati merupakan salah satu komponen penting dalam Pengendalian Hama Terpadu (PHT). Pengendalian hayati adalah pemanfaatan musuh alami untuk mengendalikan serangga hama atau penggunaan agens antagonis untuk mengendalikan patogen tanaman.

    Pengendalian hayati merupakan taktik pengelolaan hama yang dilakukan secara sengaja dengan memanfaatkan atau memanipulasikan musuh alami untuk menurunkan atau mengendalikan populasi hama. Pengendalian hayati pada dasarnya adalah usaha untuk memanfaatkan dan menggunakan musuh alami sebagai pengendali populasi hama yang merugikan.

    Pengendalian hayati sangat dilatarbelakangi oleh berbagai pengetahuan dasar ekologi, terutama teori tentang pengaturan populasi oleh pengendali alami dan keseimbangan ekosistem. Musuh alami dalam fungsinya sebagai pengendali hama bekerja secara tergantung kepadatan, sehingga keefektifannya ditentukan pula oleh kehidupan dan perkembangan hama yang bersangkutan. Ketersediaan lingkungan yang cocok bagi perkembangan musuh alami merupakan prasarat akan keberhasilan pengendalian hayati.

   Dalam pengendalian hayati terdapat penggunaan pestisida Hayati yang merupakan pestisida yang bahan dasarnya berasal dari berbagai jenis tanaman yang memiliki kandungan spesifik dalam tingkah laku dan metabolisme organisme pengganggu tanaman(OPT) serta bahan lainnya umumnya masih bersifat sederhana dan apabila masuk ke dalam tanah, air akan mudah terdegradasi secara alami dan tidak mencemari lingkungan, relatif lebih aman bagi manusia dan ternak.

1 Definisi Pestisida Hayati

    Pestisida Hayati, merupakan pestisida yang bahan dasarnya berasal dari berbagai jenis tanaman yang memiliki kandungan spesifik dalam tingkah laku dan metabolisme organisme pengganggu tanaman(OPT) serta bahan lainnya umumnya masih bersifat sederhana dan apabila masuk ke dalam tanah, air akan mudah terdegradasi secara alami dan tidak mencemari lingkungan, relatif lebih aman bagi manusia dan ternak.

    Pestisida hayati dapat pula berupa virus, bakteri, Nematoda patogen, serta Jamur. Dimana keempatnya mempunyai cara-cara tersendiri dalam menginfeksi inangnya.

.2 Pestisida Hayati dengan Menggunakan Virus


    NPV adalah virus yang berbentuk segi banyak dan terdapat di dalam inclusion bodies yang disebut polihedra dan bereplikasi di dalam inti sel (nukleus). NPV memiliki badan inklusi berbentuk polihedral yang merupakan kristal protein pembungkus virion dengan diameter 0.2 – 20 mm. Kristal protein ini disebut dengan protein polihedrin yang berukuran kurang lebih 29.000 sampai 31.000 Dalton. Kristal protein ini berfungsi sebagai pelindung infektifitas partikel virus dan menjaga viabilitasnya di alam serta melindungi DNA virus dari degradasi akibat sinar ultra violet matahari.

    NPV telah ditemukan pada 523 spesies serangga, sebagian besar NPV bersifat spesifik inang, yaitu hanya dapat menginfeksi dan mematikan spesies inang alaminya. Sehingga pada mulanya penamaan NPV disesuaikan dengan nama inang asli dimana dia pertama kali diisolasi sebagai contoh NPV yang menginfeksi ulat Spodoptera litura dinamai Spodoptera litura Nucleopolyhedrovirus (SlNPV) dan yang menginfeksi ulat Spodoptera exigua dinamai Spodoptera exigua Nucleopolyhedrovirus (SeNPV).

Mekanisme dan Siklus Hidup NPV di Alam

     Di alam, NPV biasanya ditemukan pada permukaan tanaman dan tanah. Jika termakan oleh serangga inang (ulat) dan masuk ke dalam saluran pencernaan yang memiliki pH tinggi (> 10), maka polihedra akan pecah melepaskan virion infektif. Virion yang terlepas dari matrik protein (pembungkus) akan memulai infeksi ke dalam sel-sel saluran pencernaan ulat yang kemudian DNA akan mengadakan reflikasi di inti sel.

    Proses infeksi SlNPV atau SeNPV dimulai dari tertelannya polihedra (berisi virus) bersama pakan. Di dalam saluran pencernaan yang bersuasana alkalis, polihedra larut sehingga membebaskan virus (virion). Selanjutnya virus menginfeksi sel-sel yang rentan. Dalam waktu 1 – 2 hari setelah polihedra tertelan, ulat yang terinfeksi akan mengalami gejala abnormal secara morfologis, fisiologis dan perilakunya.

    Secara morfologis, hemolimfa ulat yang semula jernih berubah keruh dan secara fisiologis, ulat tampak berminyak dan perubahan warna tubuh menjadi pucat kemerahan, terutama bagian perut. Sedangkan secara perilaku, ulat cenderung merayap ke pucuk tanaman, yang kemudian mati dalam keadaan menggantung dengan kaki semunya pada bagian tanaman.

    Permukaan kulit ulat akan mengalami perubahan warna dari pucat mengkilap pada awal terinfeksi kemudian akan menghitam dan hancur. Apabila tersentuh, tubuh ulat akan mengeluarkan cairan kental berbau seperti nanah yang berisi partikel virus. Ulat mati dalam waktu 3 – 7 hari setelah polihedra VIR (berisi virus) tertelan. Sebelum mati ulat masih dapat merusak tanaman, namun kerusakan yang diakibatkan ulat yang sudah terinfeksi sangat rendah, karena terjadi penurunan kemampuan makan dari ulat grayak sampai 84 %.

    VIR-L dan VIR-X yang berbahan aktif SeNPV dan SlNPV diaplikasikan dengan alat semprot, sama seperti yang digunakan untuk menyemprot pestisida (knapsack sprayer). Aplikasi sebaiknya ditujukan untuk mengendalikan ulat instar 1 – 3. Penyemprotan sebaiknya diarahkan ke permukaan daun bagian bawah dan dilakukan pada sore atau malam hari agar tidak langsung terkena pengaruh sinar matahari, disamping itu ulat grayak Spodoptera memiliki sifat nocturnal yaitu mencari makan pada malam hari.

(instar : fase antar 2 ganti kulit larva/ulat) 

3 Pestisida Hayati dengan Menggunakan Bakteri

    Bakteri bisa menekan pertumbuhan patogen dalam tanah secara alamiah, beberapa genus yang banyak mendapat perhatian yaitu Agrobacterium, Bacillus, dan Pseudomonas.

    Pseudomonas merupakan salah satu genus dari Famili Pseudomonadaceae. Bakteri ini berbentuk batang lurus atau lengkung, ukuran tiap sel bakteri 0.5-0.1 1μm x 1.5- 4.0 μm, tidak membentuk spora dan bereaksi negatif terhadap pewarnaan Gram. Pseudomonas terbagi atas grup, diantaranya adalah sub-grup berpendarfluor (Fluorescent) yang dapat mengeluarkan pigmen phenazine. Kebolehan menghasilkan pigmen phenazine juga dijumpai pada kelompok tak berpendarfluor yang disebut sebagai spesies Pseudomonas multivorans. Sehubungan itu maka ada empat spesies dalam kelompok Fluorescent yaitu Pseudomonas aeruginosa, P. fluorescent, P. putida, dan P. multivorans

    Pseudomonas sp. telah diteliti sebagai agen pengendalian hayati penyakit tumbuhan. Strain P.fluorescens dan P. putida yang diaplikasikan pada umbi kentang telah menggalakkan pertumbuhan umbi kentang. Pseudomonas pendarfluor meningkatkan hasil panen umbi kentang 5-33%, gula beet 4-8 ton/ha. dan menambah berat akar tumbuhan radish 60-144%. Strain ini dan strain-strain yang sama dengannya disebut sebagai rizobakteri perangsang per tumbuhan tanaman (Plant Growth-Promoting Rhizobacteria, PGPR). Sebutan sebagai rizobakteri pada bakteri Pseudomonas spp. Kemampuan PGPR sebagai agen pengendalian hayati adalah karena kemampuannya bersaing untuk mendapatkan zat makanan, atau karena hasil-hasil metabolit seperti siderofor, hidrogen sianida, antibiotik, atau enzim ekstraselluler yang bersifat antagonis melawan pathogen.

    Perlakuan benih timun menggunakan strain PGPR menyebabkan ketahanan sistemik terhadap penyakit antraknosa yang disebabkan Colletotrichum arbiculare. Aplikasi P.fluorescens strain S97 pada benih kacang telah menimbulkan ketahanan terhadap serangan penyakit hawar disebabkan P. syringe pv. phaseolicola. P. fluorescens strain CHAO menyebabkan ketahanan pada tumbuhan tembakau terhadap serangan virus nekrotik tembakau.

    Baru-baru ini telah dibutikan bahwa Pseudomonas spp. dapat menstimulir timbulnya ketahanan tanaman terhadap infeksi jamur patogen akar, bakteri dan virus. Bahwa ekstrak lipopolisakarida (LPSs) dari membran luar P.fluorescens menyebabkan ketahanan sistemik terhadap infeksi Fusarium oxysporom f.sp. dianthi pada tumbuhan bunga carnation. Sianida yang dihasilkan P. fluorescens stroin CHAO merangsang pembentukan akar rambut pada tumbuhan tembakau dan menekan pertumbuhan Thielaviopsis basicola penyebab penyakit busuk akar, diduga bahwa sianida mungkin penyebab timbulnya ketahanan sistemik (ISR). Siderofor pyoverdine dari P. fluorescens strain CHAO adalah sebab timbulnya ketahanan sistemik pada tumbuhan tembakau terhadap infeksi virus nekrosis tembakau.

    Perlakuan bakteri pada benih tumbuhan lobak dan umbi kentang menggunakan P. fluorescens strain menunjukkan pengaruh pertumbuhan yang nyata. Sedangkan P. putida strain telah meningkatkan pertumbuhan akar dan produksi umbi kentang. Siderofor dari P. fluoresces dapat berperan sebagai perangsang pertumbuhan tumbuhan dan menekan pertumbuhan F. oxysporon f sp. raphani penyebab penyakit layu Fusarium pada tum buhan lobak. Hambatan terhadap penyakit layu Fusarium pada tumbuhan carnation diduga disebabkan persaingan terhadap unsur besi.

    Ketahanan sistemik akan terjadi pada timun terhadap infeksi Colletotrichum orbiculare setelah inokulasi benih timun dengan strain PGPR. Benih kacang dengan P. fluorescens strain menyebabkan ketahanan sistemik terhadap infeksi Pseudomonas syringae pv. phaseolicola. Strain Pseudomonas spp. menyebabkan ketahanan sistemik tumbuhan timun terhadap Pythium aphanidetmatum. Contoh-contoh PGPR yang mampu berperan sebagai agen penyebab ketahanan sistemik tersebut di atas adalah karena perlakuan akar, tanah, atau biji dengan rizobakteri. Mekanisme kerja dari agen pengendalian hayati umumnya digolongkan sebagai persaingan zat makanan, parasitisme, dan antibiosis.

   Kemampuan Streptomyces griseus pengeluar antibiotik streptomisin dan strain mutasi yang tidak menghasilkan antibiotik dalam menekan pertumbuhan Bacillus subtilis temyata tidak berbeda tingkat antagonisnya, jadi dapat disimpulkan bahwa antibiotik bukan satu-satunya penyebab timbulnya antagonis. Pseudomonas fluorescens adalah agen pengendalian hayati penyakit take-all pada gandum yang disebabkan Gaeumannomyces graminis var. tritici. Bakteri ini terbukti menghasilkan antibiotic phenazin yang menekan pertumbuhan G. graminis dalam pengendalian hayati

4 Pestisida Hayati dengan Menggunakan Nematoda

     Untuk dapat meningkatkan produktivitas hasil pertanian,diperlukan perbaikan dan penyempurnaan sistem budidaya tanaman yang telah dilaksanakan. Penyempurnaan yang dimaksud adalah menyangkut semua aspek seperti produksi (budidaya tanaman), panen, penanganan pasca panen dan pemasaran hasil pertanian. Salah satu aspek yang paling besar pengaruhnya pada sistem budidaya pertanian di Indonesia adalah adanya serangan organisme pengganggu tanaman (OPT) yang tediri dari hama, penyakit dan gulma. Dari ketiga macam OPT tersebut, hama memiliki potensi yang sangat besar dalam menimbulkan kerusakan dan kerugian pada komoditas pertanian baik yang ada di lapangan maupun yang ada di gudang. Serangan hama dapat mengurangi kualitas dan kuantitas produk yang dihasilkan. Menurunnya kualitas produk karena performance yang jelek atau mungkin karena adanya perubahan warna, rasa dan bau pada produk yang dihasilkan. Serangan hama juga mengurangi kuantitas produk, yang disebabkan karena pengurangan berat, ukuran, dan lain-lain.

SIKLUS HIDUP NEMATODA STEINERMA


Siklus Hidup Nematoda :
Juvenil infective (JT) yang baru keluar dari induk dan bergerak bebas didalam tanah untuk menghasilkan generasi baru
JT stadium ke-3 (jantan dan betina), jantan dan betina kawin untuk menghasilkan generasi baru
Nematoda Steinernema betina akan memproduksi banyak juvenil infektif generasi baru di dalam tanah
JI akan berkembang biak menjadi nematoda jantan dan betina dewasa


Deskripsi Taksonomi
Filum      : Nematelminthes
Ordo      : Dorylaimida
Famili     : Steinernematidae
Genus     : Steinernema
Spesies   : Steinernema spp.

    Berbagai cara yang dilakukan untuk mengendalikan hama diantaranya adalah kultur teknis (pengaturan jarak tanam, varietas tahan, dll), fisis, mekanis, hayati dan kimiawi. Kelima cara pengendalian tersebut merupakan suatu rangkaian yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lain atau dilakukan secara terpadu.

    Pengendalian hayati merupakan upaya pengendalian hama dengan memanfaatkan musuh alami serangga sehingga mampu menekan kerusakan yang ditimbulkan oleh organisme tersebut. Musuh alami hama yang ada di lapangan jumlahnya sangat banyak baik dari golongan serangga, jamur, bakteri maupun nematoda. Dari keempat musuh alami tersebut, nematoda merupakan musuh alami yang potensial untuk mengendalikan hama baik di lapangan maupun yang ada di gudang. Salah satu nematoda entomopatogen yang sudah banyak dikenal adalah Steinernema spp. Nematoda ini bersifat broad spectrum serta virulen dan mampu membunuh hama dalam waktu yang relatif singkat yaitu 48 jam.

    Nematoda Steinernema bersimbiosis dengan satu bakteri yaitu Xenorhabdus luminescens. Simbiosis antara nematoda dan bakteri bersifat mutualisme (saling menguntungkan) dimana nematoda mendapatkan nutrisi yang dihasilkan oleh bakteri sedangkan bakteri merasa terlindungi oleh nematoda.


Biologi Steinernema

     Nematoda Steinernema paling banyak terdapat di tanah. Selain itu juga, mampu hidup di permukaan daun, di tempat-tempat yang banyak mengandung bahan organik, di air tawar dan air laut. Di dalam tanah, nematoda hidup dengan cara memanfaatkan bahan organik atau memakan serangga-serangga atau organisme lain.

    Di dalam tubuh serangga nematoda dapat berkembang biak dengan cepat sampai menghasilkan 2 sampai 3 generasi. Siklus hidup nematoda dari telur menjadi dewasa memerlukan waktu kurang lebih 14 hari. Apabila terdapat nutrisi yang melimpah siklus hidupnya bisa lebih cepat lagi dan sebaliknya apabila tidak tersedia nutrisi yang cukup maka daur hidup nematoda bisa lebih lama.

   Organisme ini bisa bertahan di dalam tanah, dengan cara inaktif dalam jangka waktu tertentu dan akan melakukan migrasi ke tempat lain apabila tidak ada persediaan makanan yang cukup . Perpindahan nematoda dari suatu tempat ke tempat lain bisa dilakukan secara pasif yakni dengan bantuan air, angin atau terbawa oleh alat-alat pertanian. Gerakan aktif nematoda sangat lambat dan ditempuh dengan waktu yang sangat panjang.

Cara menyerang hama

    Cara nematoda menyerang hama adalah nematoda masuk ke dalam tubuh larva serangga melalui lubang tubuh alami seperti spirakel, anus, atau termakan oleh larva serangga. Setelah berada di dalam tubuh larva, nematoda langsung melepaskan bakteri simbiosisnya ke dalam usus larva serangga. Bakteri inilah yang membunuh larva dengan cara mengeluarkan zat yang bersifat antibiotik atau racun terhadap serangga.

    Dalam waktu 1-2 hari larva mati. Larva yang mati biasanya ditunjukkan dengan gejala yang khas tergantung warna permukaan tubuh ulat. Ulat hongkong yang terserang nematoda ini menunjukkan gejala warna tubuh coklat kehitaman, tubuh lembek dan sedikit mengeluarkan cairan. Setelah larva mati, nematoda memperbanyak diri dengan memanfaatkan nutrisi yang ada di dalam tubuh larva tersebut. Selanjutnya induk nematoda menghasilkan 2-3 generasi baru di dalam tubuh inangnya tersebut. Setelah nutrisi di dalam tubuh larva tersebut habis maka nematoda melakukan migrasi dengan cara keluar dari tubuh larva dan mencari inang lain.

Kisaran inang Steinernema

      Nematoda Stenernema spp. memiliki kisaran inang yang sangat luas baik hama yang menyerang tanaman perkebunan, hortikultura maupun tanaman pangan. Untuk hama tanaman perkebunan yang telah berhasil dikendalikan dengan nematoda Steinernema antara lain Helopelthis sp. pada tanaman kakao. Steinernema juga mampu mengendalikan hama yang menyerang tanaman hotikultura diantaranya Spodoptera exigua dan Spodoptera litura (bawang merah), Croccidolomia binotalis dan Plutela Xylostella ( Kubis ), Helicoverpa armigera (tomat) sedangkan hama tanaman pangan yang dapat dikendalikan oleh organisme ini adalah hama putih (Nimphula depuntalis), Corcira cephalonica ,dll. Populasi Steinernema tinggi disebabkan kondisi tanah yang sangat cocok yakni tanah berpasir dan juga serangan hama S. exigua pada bawang merah dan S. litura pada cabai yang tinggi. Dengan adanya inang yang cocok tersebut nematoda Steinernema dapat bertahan lama dan berproduksi dengan baik.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgNgiGKzq7mWpO6ZMmBRHuFuXyvyXwfQsa1208Vu-VJvDsDQoxhV5d2u60E0b1JOgmJikUYkgpl_N7vsPzKYpAEbtk63POoSJb5EuLx97XB_V5XuY3ltaIqG42NVP0mweb5SsLRjnfASA5e/s200/H.jpghttps://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEiZbP88BB4_8dKQWaWB35sIEE-4StPM6M1pWPtEAo5gcwbO9PHKUTfcnqf3dM27R92H0A6hhVBx5VYxKFV7_DS7MGd5pSpRLK8cJj3XBR5vXPkvp3Z9r8zk-qCiIguYKQDJ6mQC-2ar95N1/s200/G.jpg
 Gambar I                                                     Gambar II

I : Ulat spodoptera litura (instar-1) yang terserang Steinernema sp
II : Gejala serangan Steinernema spp pada Ulat Spodoptera litura instar III 

5 Pestisida Hayati dengan Menggunakan Jamur

     Dalam pengaplikasiaannya banyak sekali pestisida hayati yang aman digunakan di dalam pengendalian hama. Berikut ini adalah penggunaan jamur di dalam pengenndalian hayati. Contoh jamur yang kami gunakan di dalam makalah ini adalah Beauveria bassiana.

Beauveria bassiana
Gambar- gambar mikroskopis Beauveria bassiana 
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEjphwbOjTSwY0lndxo3wZrSZLVTOCyLTfZgtmOdETwQqaJzDax09efsN4-nmo8d0Fg4j3KdTWa4pmb-KYpB_s58lJ0HwwABiy4vc_cfEpcpFN8Oer5EB28tYyeQOrTkmRXPlI0OUQvzKvUF/s320/I.bmp

Gambar-gambar serangga yang terinfeksi Beauveria bassiana
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEgVlCPHvCsBo-8Db17L8ZJGWye8fJ-eQTBXSmxTsth4OA-6QfiJiEW3ruwqJQG7SKvRlUy3_ur6UoScUx8WwNIn1MUKeiaVmJJnMSHUlVf7IpiEIsx_nSyqD9aIDa0GbOqD-sY4GY2oeuWZ/s320/J.jpg

  Jamur entomopatogen, B. bassiana dapat diperoleh dari tanah terutama pada bagian atas (top soil) 5 – 15 cm dari permukaan tanah, karena pada horizon ini diperkirakan banyak terdapat inokulum B. bassiana. Teknik untuk memperoleh jamur entomopatogen, B. bassiana dari tanah adalah dengan menggunakan metoda umpan serangga (insect bait method) seperti dapat dilihat pada Gambar 1.
https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhVmcnyZvXJ10Qt9BznLINYCWworb-1xF5-7ShYVsC313pxDZ_gt8G9zYHNvgUjlwnXhktoGA6rc1ew4JbKlFRiWxXj0t8wiy8lJ4KbybtTdrHB-9bPxVCdRVGcZJLceMpNGHBDkudfw_tE/s320/k.jpg

Gambar 1. Teknik untuk memperoleh jamur entomopatogen melalui metoda umpan serangga (insect bait method).

   Jamur B. bassiana dapat bertahan di dalam tanah sebagai kompetitor lemah dan terdistribusi secara heterogen sehingga dapat diisolasi dari sampel tanah pada kedalaman 5 – 15 cm.

    Isolat jamur B. bassiana diambil dari tanah. Tanah asal isolat diambil secara acak di sekitar pertanaman pisang. Tanah diambil dengan menggalinya pada kedalaman 5–10 cm masing-masing sebanyak 4 x 500 g kemudian dimasukkan ke kantongan plastik diberi label berupa lokasi dan tanggal pengambilan sampel.

     Tanah kemudian diayak dengan ayakan 600 mesh dan dimasukkan ke dalam kotak plastik berukuran 13 x 13 x 10 cm masing-masing sebanyak 400 g (tiap daerah menggunakan 4 buah kotak). Larva T. molitor stadia larva instar 3 yang baru berganti kulit (kulitnya masih berwarna putih) dimasukkan kedalam kotak yang berisi tanah masing-masing sebanyak 10 ekor, sebagai perangkap umpan agar terserang jamur B. bassiana (insect bait methode). Larva ini kemudian ditutupi dengan selapis tipis tanah dan dilembabkan dengan menyemprotkan aquadest steril diatasnya. Selanjutnya kotak ditutupi dengan potongan kain puring hitam ukuran 25 x 25 cm yang juga telah dilembabkan. Larva T. molitor yang diduga terserang jamur B. bassiana diamati 3 hari setelah diperlakukan kemudian diamati setiap harinya dan segera setelah terserang jamur B. bassiana diisolasi sebagai sumber isolat.

    Larva yang terinfeksi jamur B. bassiana terlebih dahulu disterilisasi permukaan dengan 1% Natrium hipoklorit selama 3 menit. Kemudian dibilas dengan air steril sebanyak 3 kali dan dikering anginkan diatas kertas filter steril. Larva tersebut kemudian diletakkan dalam petridish berisi tissu lembab steril dan diinkubasikan untuk merangsang pertumbuhan jamur. Spora yang keluar dari tubuhnya kemudian diambil menggunakan jarum inokulasi dan dibiakkan pada PDA (Potato Dextrose Agar) dan diinkubasikan selama 7 hari.

Gambar 2. Perbandingan stadia larva dan serangga dewasa C. sordidus yang sehat dengan yang terinfeksi B. bassiana.

a. Larva yang sehat,

b. larva yang terinfeksi B. bassiana (permukaan tubuhnya tertutup miselium jamur berwarna putih),

c. serangga dewasa yang sehat,

d. serangga dewasa yang abnormal (cacat).
   Isolat jamur B. bassiana dapat mematikan serangga dewasa dan pra dewasa (telur, larva, pupa) hama penggerek bonggol pisang, C. sordidus Bila pupa yang terinfeksi B. bassiana dapat hidup, namun serangga imagonya akan cacat dimana perkembangan sayapnya tidak sempurna (gambar 2 d)

    Jamur B. bassiana terlihat keluar dari tubuh serangga terinfeksi mula-mula dari bagian alat tambahan (apendages) seperti antara segmen-segmen antena, antara segmen kepala dengan toraks , antara segmen toraks dengan abdomen dan antara segmen abdomen dengan cauda (ekor). Setelah beberapa hari kemudian seluruh permukaan tubuh serangga yang terinfeksi akan ditutupi oleh massa jamur yang berwarna putih (Gambar 3). Penetrasi jamur entomopatogen sering terjadi pada membran antara kapsul kepala (head capsule) dengan toraks atau diantara segmen-segmen apendages demikian pula miselium jamur keluar pertama kali pada bagian-bagian tersebut

Gambar 3. Gejala pada serangga dewasa C. sordidus yang terinfeksi oleh jamur B.bassiana.

a. Gejala 3 hari setelah kematian,

b. Gejala 5 hari setelah kematian,

c. Gejala 7 hari setelah kematian,

d. Gejala 10 hari setelah kematian.

     Serangga dewasa C. sordidus yang masih hidup namun telah terinfeksi masuk ke dalam batang semu yang digunakan sebagai penutup perangkap bonggol setelah aplikasi jamur B. bassiana, kemudian akan mati di dalam batang semu. Kematian serangga dewasa C. sordidus akan meningkat karena di dalam batang semu kelembabannya relatif lebih tinggi (berair) (Gambar 4).

Gambar 4. Serangga dewasa C. sordidus yang terinfeksi jamur B. bassiana berada di dalam batang semu penutup perangkap setelah aplikasi di lapangan


     Prospek penggunaan jamur B. bassiana cukup baik karena dari hasil penelitian bahwa jamur tersebut mampu mematikan 95% serangga yang diuji.

Gambar contoh produk Beauveria bassiana yang sudah dikemas secara industri

Beauveria bassiana Pengendali Walang Sangit

    Serangan organisme pengganggu tumbuhan (OPT) merupakan salah satu faktor pembatas dalam peningkatan produksi pertanian. Untuk pengendalian OPT, jalan pintas yang sering dilakukan adalah menggunakan pestisida kimia. Padahal penggunaan pestisida yang tidak bijaksana banyak menimbulkan dampak negatif, antara lain terhadap kesehatan manusia dan kelestarian lingkungan hidup. Memperhatikan pengaruh negatif pestisida tersebut, perlu dicari cara-cara pengendalian yang lebih aman dan akrab lingkungan. Hal ini sesuai konsepsi pengendalian hama terpadu (PHT), bahwa pengendalian OPT dilaksanakan dengan mempertahankan kelestarian lingkungan, aman bagi produsen dan konsumen serta menguntungkan petani. Salah satu alternatif pengendalian adalah pemanfaatan jamur penyebab penyakit pada serangga, yaitu jamur patogen Beauveria bassiana.

    Laboratorium BPTPH Propinsi Daerah Istimewa Yogyakarta telah mengembangkan dan memproduksi secara massal jamur patogen serangga B. bassiana sebagai insektisida alami. Berdasarkan kajian jamur B. bassiana efektif mengendalikan hama walang sangit, wereng batang coklat, dan kutu (Aphis sp.).

CARA KERJA B. bassiana

    Jamur B. bassiana masuk ketubuh serangga inang melalui kulit, saluran pencernaan, spirakel dan lubang lainnya. Inokulum jamur yang menempel pada tubuh serangga inang akan berkecambah dan berkembang membentuk tabung kecambah, kemudian masuk menembus kulit tubuh.

     Penembusan dilakukan secara mekanis dan atau kimiawi dengan mengeluarkan enzim atau toksin. Jamur akan berkembang dalam tubuh inang dan menyerang seluruh jaringan tubuh, sehingga serangga mati. Miselia jamur menembus ke luar tubuh inang, tumbuh menutupi tubuh inang dan memproduksi konidia. Namun apabila keadaan kurang menguntungkan perkembangan jamur hanya berlangsung di dalam tubuh inang.

GEJALA SERANGAN

Serangga yang terserang jamur B. bassiana akan mati dengan tubuh mengeras seperti mumi, dan jamur menutupi tubuh inang dengan warna putih.

HAMA SASARAN

Dilaporkan telah diketahui lebih dari 175 jenis serangga hama yang menjadi inang jamur B. bassiana. Berdasarkan hasil kajian jamur ini efektif mengendalikan hama walang sangit (Leptocorisa oratorius) dan wereng batang coklat (Nilaparvata lugens) pada tanaman padi serta hama kutu (Aphis sp.) pada tanaman sayuran.

KEUNGGULAN

Beberapa keunggulan jamur patogen serangga B. bassiana sebagai pestisida alami, yaitu :

1. Selektif terhadap serangga sasaran sehingga tidak membahayakan serangga lain bukan sasaran, seperti predator, parasitoid, serangga penyerbuk, dan serangga berguna lebah madu.

2. Tidak meninggalkan residu beracun pada hasil pertanian, dalam tanah maupun pada aliran air alami.

3. Tidak menyebabkan fitotoksin (keracunan) pada tanaman

4. Mudah diproduksi dengan teknik sederhana.

    Untuk memperoleh hasil pengendalian yang efektif, penyemprotan sebaiknya dilakukan sore hari (pukul 15.00 – 18.00) untuk mengurangi kerusakan oleh sinar ultraviolet.  Formulasi B. bassiana sebaiknya disimpan di tempat yang sejuk untuk mempertahankan efektivitasnya, dan sedapat mungkin dihindarkan dari pengaruh panas secara langsung.